Panduan Praktis Analisis Rasio EPS, ROE, dan PER untuk Menilai Kelayakan Saham

UangGue.comDalam dunia investasi saham, memahami rasio keuangan bukan sekadar hafalan angka atau rumus. Rasio seperti EPS, ROE, dan PER menjadi fondasi penting dalam analisis fundamental , yaitu proses memancarkan nilai intrinsik suatu perusahaan berdasarkan data keuangannya. Sayangnya, banyak investor pemula hanya berhenti pada definisi dan tidak tahu bagaimana cara menggunakan rasio-rasio ini dalam pengambilan keputusan nyata.

Analisis fundamental EPS, ROE, PER

Artikel ini akan membantu kamu memahami bagaimana cara menghitung dan menafsirkan rasio tersebut secara langsung, lengkap dengan contoh studi kasus dan analisis aplikatif. Jika kamu ingin memahami lebih lanjut tentang "Analisis fundamental: EPS, ROE, PER" , artikel ini adalah untuk Anda.

Apa Itu EPS dan Mengapa Penting?

EPS atau Earnings Per Share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih perusahaan dibagi jumlah saham yang beredar. EPS menunjukkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh untuk setiap lembar saham yang kamu miliki.

Rumus EPS:

EPS = Laba Bersih / Jumlah Saham Beredar

Contoh Perhitungan EPS:

Misalnya PT XYZ Tbk memiliki:

  • Laba bersih: Rp 150 miliar
  • Jumlah saham beredar: 1 miliar lembar

Maka:

EPS = Rp 150.000.000.000 / 1.000.000.000 = Rp 150

➡️ Artinya, setiap lembar saham menghasilkan laba Rp 150 selama satu tahun berjalan.

EPS sering digunakan untuk mengukur profitabilitas per saham dan menjadi dasar dalam penghitungan PER (Price to Earnings Ratio). Namun, jangan hanya melihat angkanya—perhatikan juga konsistensi pertumbuhannya dari tahun ke tahun. EPS yang meningkat setiap tahun menandakan perusahaan sedang berkembang secara sehat.

Mengenal ROE dan Efisiensi Modal Perusahaan

ROE (Return on Equity) mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari kepemilikan pemegang saham. Dengan kata lain, ROE menilai seberapa efektif manajemen dalam mengelola modal yang dipercayakan pemegang saham.

Rumus ROE:

ROE = (Laba Bersih / Ekuitas) x 100%

Contoh Perhitungan ROE:

Masih dengan data PT XYZ Tbk:

  • Laba bersih: Rp 150 miliar
  • Ekuitas: Rp 1 triliun

ROE = (Rp 150.000.000.000 / Rp 1.000.000.000.000) x 100% = 15%

➡️ ROE sebesar 15% menunjukkan bahwa dari setiap Rp 1.000 ekuitas, perusahaan mampu menghasilkan Rp 150 laba bersih.

Umumnya, ROE di atas 15% dianggap cukup baik, terutama jika konsisten selama beberapa tahun. Namun, jangan lupa membandingkannya dengan perusahaan lain di sektor yang sama—karena standar efisiensi bisa berbeda antar industri.

Menggunakan PER untuk Menilai Apakah Saham Terlalu Mahal atau Murah

PER (Price to Earnings Ratio) membantu kamu menilai apakah harga saham suatu perusahaan tergolong murah atau mahal dibandingkan laba per saham yang dihasilkannya.

Rumus PER:

PER = Harga Saham / EPS

Contoh Perhitungan PER:

Jika harga saham PT XYZ Tbk saat ini Rp 1.200 dan EPS-nya Rp 150:

PER = Rp 1.200 / Rp 150 = 8x

➡️ PER 8x artinya investor rela membayar 8 kali lipat dari laba per saham untuk membeli saham ini.

PER yang rendah bisa mengindikasikan saham undervalued ( murah ), tapi bisa juga karena prospek pertumbuhan bisnisnya kurang menjanjikan. Oleh karena itu, penting untuk membandingkan PER dengan perusahaan lain dalam sektor yang sama, atau rata-rata PER industri.

mengacu pada EPS, ROE, dan PER dalam Satu Analisis

Menganalisis satu rasio saja bisa pelayaran. Contohnya, perusahaan bisa punya PER rendah tapi ROE juga rendah, artinya efisiensi modalnya buruk. Sebaliknya, perusahaan dengan PER tinggi mungkin punya EPS yang terus tumbuh dan ROE tinggi—membenarkan valuasi mahalnya.

Mari lihat contoh sintesis rasio ketiga:

Rasio

Nilai

Analisis

EPS

Rp 150

Laba per saham cukup besar

KIJANG

15%

Manajemen cukup efisien

PER

8x

Saham tergolong murah

➡️ Dengan kombinasi ini, PT XYZ Tbk bisa menjadi saham undervalued dengan fundamental yang sehat—tetapi Anda tetap perlu memeriksa tren kinerja tahunan dan prospek industrinya.

Studi Kasus Nyata: Saham di Sektor Perbankan

Misalkan kamu sedang membandingkan dua saham perbankan:

Perusahaan

EPS

KIJANG

PER

Bank A

300

18%

10x

Bank B

100

9%

25x

Dari sini kamu bisa lihat:

  • Bank A memiliki EPS tinggi, ROE tinggi, dan PER rendah. Ini bisa menjadi tanda saham undervalued.
  • Bank B mempunyai valuasi mahal (PER tinggi) namun kinerja laba dan efisiensinya rendah. Perlu dijelaskan lebih dalam apakah ada prospek luar biasa ke depan atau hanya euforia pasar.

Inilah manfaat nyata dari analisis pemahaman fundamental: EPS, ROE, PER dalam satu kerangka berpikir yang saling terhubung. Pelajari lebih lanjut di sini .

Kapan Rasio Ini Digunakan?

Kamu sebaiknya menggunakan kombinasi EPS, ROE, dan PER ketika:

  • Ingin membandingkan saham dalam satu sektor
  • Melakukan valuasi saham jangka menengah-panjang
  • Menyeringkan saham undervalued dalam strategi value investing

Namun, jangan gunakan rasio ini sendirian. termasuk pula:

  • Kinerja manajemen
  • Pertumbuhan laba tahunan
  • Struktur utang
  • Dividen yang diberikan
  • Prospek sektor secara makro

Tips Praktis Menggunakan Rasio Fundamental

Berikut beberapa checklist sebelum membeli saham berdasarkan rasio:

Cek EPS 3–5 tahun terakhir. Apakah trennya naik?
Lihat ROE stabil di atas 15%?
PER lebih rendah dari rata-rata sektor?
Apakah semua data berasal dari laporan keuangan yang diaudit?
Ada kabar atau sentimen pasar yang tidak tercermin di laporan?

Semakin lengkap data yang kamu gunakan, semakin akurat keputusan investasi kamu.

Artikel ini tidak hanya menjelaskan rasio secara teori, tetapi juga menunjukkan bagaimana kamu bisa menerapkannya secara langsung. Itulah inti dari konten people-first yang ingin kami bangun di UangGue: bukan sekadar menjawab definisi, tetapi memberi kamu wawasan dan alat untuk membuat keputusan investasi yang lebih cerdas.

Kalau kamu tertarik membaca lebih lanjut soal EPS, kamu bisa cek artikel khusus kami di sini: Pahami EPS (Earnings Per Share) . Atau baca juga pembahasan mendalam kami tentang ROE adalah indikator kinerja perusahaan .

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama