Banyak
diskusi tentang kenapa Gen Z susah nabung? berangkat dari
asumsi lama yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan generasi sekarang.
Dunia yang dihadapi Gen Z berbeda dengan generasi sebelumnya, baik dari sisi
biaya hidup, pola kerja, hingga tekanan sosial.
Tekanan Biaya Hidup dan Realita Gaji Awal Karier
Tekanan Biaya Hidup dan Realita Gaji Awal Karier
Bagi
sebagian besar Gen Z di Indonesia, penghasilan awal sering kali berada di
kisaran UMR atau sedikit di atasnya. Di atas kertas, angka tersebut terlihat
cukup untuk hidup layak. Namun dalam praktiknya, pengeluaran dasar sudah
menyerap porsi pendapatan terbesar. Biaya sewa kos, transportasi, makan harian,
hingga internet—yang kini menjadi kebutuhan utama untuk bekerja dan
belajar—membuat ruang untuk menabung menjadi sangat sempit sejak awal bulan.
Situasi
ini membuat menabung bukan lagi soal niat, melainkan soal sisa. Ketika sisa
pendapatan sangat terbatas, tabungan berubah dari kebiasaan menjadi kemewahan.
Kondisi ini sering kali luput dari pembahasan yang terlalu fokus pada aspek
perilaku semata.
Perubahan Pola Kerja dan Ketidakpastian Pendapatan
Berbeda
dengan generasi sebelumnya yang relatif lebih banyak bekerja secara formal dan
stabil, Gen Z hidup di era kerja yang fleksibel. Freelance, kontrak jangka
pendek, dan gig economy menjadi pilihan atau bahkan keharusan. Pola ini memberi
kebebasan, tetapi juga mendatangkan pendapatan.
Ketika
penghasilan tidak konsisten, prioritas keuangan pun bergeser. Dana darurat
sering kali digunakan untuk menutup kebutuhan rutin, bukan disimpan. Dalam
kondisi seperti ini, tabungan jangka panjang terasa abstrak dibandingkan
kebutuhan jangka pendek yang lebih mendesak.
Tekanan Sosial Digital yang Tidak Terlihat
Media
sosial menciptakan lingkungan sosial baru yang terus-menerus membandingkan gaya
hidup. Bagi Gen Z, melihat teman sebaya menikmati liburan, nongkrong di tempat
populer, atau membeli gadget terbaru bukan lagi kejadian sesekali, melainkan
paparan harian.
Tekanan
ini tidak selalu berakhir pada keinginan pamer. Banyak Gen Z merasa perlu “ikut
serta” agar tidak tertinggal secara sosial. Keputusan finansial pun sering
dipengaruhi faktor emosional, bukan semata kebutuhan. Dalam jangka panjang,
pola ini membuat alokasi untuk menabung semakin tergerus tanpa disadari.
Akses Mudah ke Kredit Kecil yang Menupuk
Kemudahan
akses ke paylater dan cicilan digital menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi,
layanan ini membantu memenuhi kebutuhan tanpa harus mengeluarkan uang besar di
awal. Di sisi lain, nominal cicilan yang terlihat kecil sering kali menumpuk
tanpa perencanaan yang matang.
Banyak
Gen Z yang tidak merasa bersemangat, tetapi tetap kehabisan uang sebelum akhir
bulan karena beberapa cicilan berjalan secara bersamaan. Situasi ini
menggambarkan ruang untuk menabung, bahkan ketika pengeluaran besar tidak
pernah dilakukan.
Minimnya Edukasi Finansial yang Kontekstual
Sebagian
besar edukasi keuangan masih disampaikan dengan pendekatan normatif: sisihkan
sekian persen untuk menabung, hindari konsumsi berlebihan, dan disiplin
mengatur uang. Masalahnya, pendekatan ini jarang mempertimbangkan konteks
kehidupan Gen Z saat ini.
Ketika
saran keuangan tidak relevan dengan kondisi nyata, edukasi kehilangan daya
guna. Gen Z membutuhkan panduan yang adaptif, bukan sekedar teori ideal. Tanpa
pemahaman konteks, menabung terasa seperti tujuan yang terus menjauh.
Perbedaan Nilai Hidup dan Prioritas Pengalaman
Gen Z
dikenal lebih menghargai pengalaman dibandingkan kepemilikan aset. Bagi mereka,
kualitas hidup tidak selalu diukur dari saldo tabungan, tetapi dari pengalaman
yang memberi makna. Pola pikir ini sering dianggap sebagai kebiasaan menabung,
padahal keduanya tidak selalu saling meniadakan.
Masalah
muncul ketika pengalaman dikonsumsi tanpa perencanaan. Tanpa strategi keuangan
yang seimbang, prioritas pengalaman dapat menjamin keamanan finansial jangka
panjang.
Dampak Lingkungan Ekonomi Makro
Inflasi,
kenaikan harga kebutuhan pokok, dan ekonomi global turut mempengaruhi kemampuan
tabungan. Gen Z memulai kehidupan finansial di tengah kondisi ekonomi yang
penuh tantangan. Dibanding generasi sebelumnya, mereka harus beradaptasi lebih
cepat dengan perubahan yang tidak selalu menguntungkan.
Dalam
konteks ini, sulitnya menabung bukan tanda kegagalan pribadi, melainkan
refleksi dari kondisi sistemik yang lebih luas.
Memahami Masalah Sebelum Memberikan Solusi
Mempertanyakan
mengapa Gen Z sulit menabung seharusnya tidak berhenti pada label “boros” atau
“kurang disiplin”. Tanpa memahami realitas ekonomi, sosial, dan psikologis yang
dihadapi, solusi apa pun akan terasa tidak membumi.
Pendekatan
yang lebih manusiawi adalah mengakui tantangan yang ada, lalu membangun
strategi keuangan yang realistis. Menabung tetap penting, tetapi caranya perlu
disesuaikan dengan kondisi nyata Gen Z saat ini. Dengan pemahaman yang lebih
utuh, diskusi tentang kenapa Gen Z susah nabung? bisa menjadi pintu
masuk menuju literasi keuangan yang lebih relevan dan berkelanjutan.