Memahami Konsep
Dasar Aturan 7% dalam Saham
Memahami Konsep Dasar Aturan 7% dalam Saham
Aturan 7% dalam
saham adalah strategi manajemen risiko yang menetapkan batas kerugian
maksimal 7% dari nilai portofolio pada setiap posisi trading. Dalam praktiknya,
aturan ini merekomendasikan investor untuk menjual saham yang mereka miliki
ketika harga turun mencapai 7% dari harga pembelian awal.
Konsep ini pertama
kali dipopulerkan oleh William O'Neil, pendiri Investor's Business Daily dan
penulis buku "How to Make Money in Stocks". O'Neil menciptakan aturan
ini berdasarkan pengalaman dan penelitian mendalam terhadap pola saham-saham
sukses selama beberapa dekade.
Prinsip dasar di
balik aturan 7% adalah membatasi kerugian sebelum menjadi terlalu besar
sehingga sulit untuk dipulihkan. Sebagai contoh, jika Anda mengalami kerugian
50%, Anda membutuhkan gain 100% hanya untuk kembali ke posisi awal. Dengan
membatasi kerugian pada level 7%, Anda hanya membutuhkan kenaikan sekitar 7.5%
untuk menutupi kerugian tersebut.
Mengapa Batas 7%?
Analisis Psikologis dan Matematis
Angka 7% dalam
aturan ini bukanlah angka acak, melainkan hasil penelitian dan pertimbangan
matang. Berikut alasan mengapa batas 7% dipilih:
1. Pertimbangan
Matematis
Dari sudut pandang
matematika, kerugian 7% masih tergolong rasional untuk dipulihkan. Sebagai
perbandingan:
- Kerugian
7% membutuhkan gain 7.5% untuk balik modal
- Kerugian
15% membutuhkan gain 17.6% untuk balik modal
- Kerugian
25% membutuhkan gain 33% untuk balik modal
- Kerugian
50% membutuhkan gain 100% untuk balik modal
Semakin besar
kerugian, semakin sulit dan lama proses pemulihannya. Dengan membatasi kerugian
di 7%, Anda menjaga portofolio tetap sehat dan lebih mudah untuk tumbuh.
2. Pertimbangan
Psikologis
Batasan 7% membantu
trader mengatasi bias psikologis seperti:
- Loss
aversion:
Kecenderungan alamiah untuk menahan saham rugi terlalu lama
- Confirmation
bias:
Mencari informasi yang mendukung keputusan awal meski saham terus turun
- Sunken
cost fallacy:
Terus menahan investasi buruk karena sudah terlanjur menginvestasikan
waktu dan uang
Dengan aturan yang
jelas, emosi dapat dikurangi dalam pengambilan keputusan jual beli saham.
3. Pertimbangan
Volatilitas Pasar
Pasar saham
memiliki volatilitas alami yang menyebabkan fluktuasi harga harian. Batas 7%
cukup longgar untuk menampung fluktuasi normal, namun cukup ketat untuk
mencegah kerugian signifikan dari tren turun yang berkelanjutan.
Cara Menerapkan
Aturan 7% dalam Trading Saham
Penerapan aturan 7%
membutuhkan disiplin dan konsistensi. Berikut langkah-langkah praktis untuk
menerapkannya:
1. Tentukan Posisi
Awal
Sebelum membeli
saham, tentukan berapa persen dari portofolio total yang akan dialokasikan
untuk saham tersebut. Umumnya, disarankan tidak mengalokasikan lebih dari
10-25% portofolio pada satu saham tunggal.
2. Hitung Titik Cut
Loss
Setelah membeli
saham, segera hitung harga cut loss Anda. Misalnya, jika Anda membeli saham XYZ
di harga Rp1.000 per lembar, maka cut loss Anda berada di:
Rp1.000 - (7% × Rp1.000) = Rp930
3. Gunakan
Stop-Loss Order
Manfaatkan fitur
stop-loss order yang disediakan platform trading untuk secara otomatis menjual
saham ketika mencapai harga Rp930. Ini membantu menghilangkan unsur emosi dalam
eksekusi.
4. Evaluasi
Konsisten
Lakukan evaluasi
berkala terhadap keputusan cut loss Anda. Apakah saham yang dijual kemudian
rebound? Apakah aturan ini efektif dalam melindungi portofolio Anda?
Kritik dan Batasan
Aturan 7%
Meskipun populer,
aturan 7% tidak lepas dari kritik dan memiliki beberapa batasan:
1. Tidak
Mempertimbangkan Volatilitas Individu Saham
Saham dengan
volatilitas tinggi mungkin secara normal mengalami fluktuasi lebih dari 7%
dalam periode singkat. Penerapan rigid aturan 7% pada saham seperti ini bisa
menyebabkan Anda sering cut loss padahal saham tersebut dalam tren naik jangka
panjang.
2. Biaya Transaksi
yang Terakumulasi
Sering melakukan
jual beli saham akan mengakumulasi biaya transaksi yang dapat menggerus
keuntungan jangka panjang.
3. Potensi Missed
Opportunity
Dengan cut loss di
7%, ada kemungkinan saham tersebut rebound tak lama setelah Anda menjual,
menyebabkan missed opportunity.
Alternatif dan
Modifikasi Aturan 7%
Banyak trader yang
memodifikasi aturan 7% berdasarkan profil risiko dan strategi trading mereka:
1. Aturan
Berdasarkan Volatilitas
Beberapa trader
menggunakan Average True Range (ATR) untuk menetapkan stop loss yang
disesuaikan dengan volatilitas saham. Misalnya, menetapkan stop loss sejauh 2x
ATR di bawah harga beli.
2. Aturan
Berdasarkan Support Level
Trader teknikal
sering menempatkan stop loss tepat di bawah level support penting, terlepas
dari persentase kerugiannya.
3. Aturan
Berdasarkan Time Frame
Trader jangka
pendek mungkin menggunakan batas kerugian yang lebih ketat (3-5%), sementara
investor jangka panjang bisa menggunakan batas lebih longgar (10-15%).
Tips Sukses
Menerapkan Aturan 7%
Agar penerapan
aturan 7% efektif, pertimbangkan tips berikut:
- Konsistensi
adalah Kunci:
Terapkan aturan ini secara konsisten pada semua posisi trading
- Diversifikasi
Portofolio:
Jangan mengandalkan satu saham saja, sebarkan risiko ke berbagai instrumen
- Gunakan
Analisis Fundamental dan Teknikal: Aturan 7% adalah alat manajemen risiko,
bukan strategi trading utuh
- Review
dan Adaptasi:
Evaluasi secara berkala efektivitas aturan ini bagi portofolio Anda
- Kelola
Emosi:
Disiplin mengikuti aturan meskipun bertentangan dengan harapan
Kesimpulan
Aturan 7% dalam
saham adalah pedoman manajemen risiko yang terbukti membantu trader
melindungi modal dari kerugian besar. Meskipun tidak sempurna, aturan ini
memberikan kerangka kerja yang jelas untuk membatasi kerugian dan
mempertahankan disiplin trading.
Yang terpenting
dari aturan apapun dalam trading adalah konsistensi dan pemahaman mendalam
tentang bagaimana aturan tersebut sesuai dengan strategi dan tujuan investasi
Anda. Aturan 7% bukanlah jaminan kesuksesan mutlak, melainkan salah satu alat
dalam toolkit trader yang bijaksana.
Dengan menerapkan aturan 7% secara disiplin, dikombinasikan dengan strategi trading yang solid dan pengelolaan emosi yang baik, Anda dapat meningkatkan peluang kesuksesan jangka panjang di pasar saham yang penuh tantangan ini.